SLEMAN – Suasana malam di kawasan Desa Wisata Kembang, Madurejo, Prambanan, terasa berbeda pada Senin malam, 24 Agustus 2026. Alunan gamelan, dialog berbahasa Jawa, serta kemegahan busana para pemain membawa penonton menyelami kembali kisah pergolakan kekuasaan antara Pajang dan Mataram melalui pertunjukan Kethoprak Milenial “Benawa Gugat”.https://www.youtube.com/watch?v=MkYNJqO5pok
Pementasan yang dipersembahkan oleh Sanggar Puspo Laras Bendosari tersebut menjadi bagian dari Senandung Gending Puspa Laras #2, sekaligus melanjutkan pertunjukan sebelumnya bertajuk Rumentahing Pajang ing Prambanan. Pertunjukan dimulai pukul 21.00 WIB hingga selesai dan berlangsung di Area Desa Wisata Kembang.

Mengusung kisah berlatar sejarah Jawa, Benawa Gugat menghadirkan sosok Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya, yang harus menghadapi getirnya perebutan kekuasaan setelah runtuhnya kejayaan Pajang.
Ketika Hak Waris Dipertaruhkan

Kisah bermula dari pergolakan besar di Prambanan. Peperangan antara Pajang dan Mataram tidak hanya meninggalkan luka di medan laga, tetapi juga mengubah arah perjalanan kekuasaan Jawa. Sultan Hadiwijaya mengalami luka batin dan raga hingga akhirnya mengakhiri perjalanan hidupnya.
Sepeninggal Hadiwijaya, dhampar keprabon Pajang berada dalam kekosongan. Dalam situasi politik yang penuh intrik dan tarik-menarik kepentingan, pengaruh Sunan Kudus turut mewarnai naiknya Arya Pangiri ke tampuk kekuasaan Pajang dengan gelar Awantipura.
Sementara itu, Pangeran Benawa yang secara garis keturunan memiliki hak atas warisan kekuasaan justru tersingkir dan diasingkan ke Jipang Panolan.
Di sinilah konflik utama Benawa Gugat menemukan denyutnya.
Benawa bukan sekadar menggugat sebuah kedudukan. Ia menggugat keadaan yang membuat hak dan warisan keluarganya dirampas oleh kepentingan politik. Namun, jalan untuk mendapatkan kembali apa yang diyakininya sebagai hak tidaklah mudah. Ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit: perang saudara dan perebutan kekuasaan di antara mereka yang masih memiliki hubungan darah.
Benawa Memilih Bangkit

Dalam keterasingannya, Benawa tidak larut dalam keputusasaan. Ia menyusun kekuatan dan mencari jalan untuk mengembalikan Pajang dari tangan Arya Pangiri.
Harapan kemudian diarahkan kepada Kangmas Senapati ing Mataram. Benawa meminta bantuan kepada saudara tuanya tersebut untuk bersama-sama menghadapi kekuasaan Arya Pangiri.
Permintaan itu menjadi titik penting dalam cerita. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya singgasana Pajang, tetapi juga hubungan persaudaraan, harga diri, kesetiaan, serta masa depan sebuah kerajaan.
Dengan gaya kethoprak milenial, kisah klasik tersebut dikemas lebih dekat dengan penonton masa kini tanpa kehilangan ruh seni tradisi Jawa. Dialog, karawitan, karakter tokoh, tata busana, dan adegan dramatik berpadu menjadi sebuah pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengajak penonton memahami kembali dinamika sejarah dan budaya Jawa.
Dari Babad Menjadi Pertunjukan
Benawa Gugat dapat dipandang sebagai upaya menghidupkan kembali ingatan sejarah melalui seni pertunjukan. Kisahnya mengambil latar pergolakan Pajang dan Mataram yang dikenal dalam berbagai tradisi tutur dan sumber sejarah Jawa, kemudian diolah menjadi cerita panggung yang komunikatif bagi generasi sekarang.

Nuansa penceritaan yang menyerupai gaya babad, termasuk penekanan pada perjalanan tokoh, konflik kekuasaan, hubungan darah, serta pertarungan antara hak dan kepentingan politik, membuat pertunjukan ini terasa seperti membuka kembali lembaran kisah Jawa masa lampau.
Namun, Benawa Gugat tidak berhenti pada cerita tentang kerajaan.
Di balik konflik perebutan kekuasaan, terselip pesan mengenai keteguhan hati, keberanian memperjuangkan kebenaran, kesetiaan kepada keluarga, serta konsekuensi dari ambisi kekuasaan.
Tradisi yang Diberi Napas Baru
Kekuatan pertunjukan semakin terasa melalui keterlibatan banyak seniman dan pemain. Agung Dwi Prakoso dipercaya sebagai sutradara, sementara Eko Dwi Purnomo menjadi penata iringan.

Para pemain seperti Sujarwoko, Nanda Septianto, Fatir, Arya, Kristanto, Fajar, Hana, Gifta, Bagas, Dwi Aryanto, Renar, Noval, Sony, Budi, Sihono, Galeh, Mahmud, Haryo, Mukti, Reyhan, dan Raka turut menghidupkan karakter-karakter dalam cerita.
Dukungan para pengrawit—Akhsan, Endri, Wadi, Totok, Wardal, Parjo, Kotrek, Dwi, Arief, dan Tri S—serta sinden Mbak Endah, menjadikan suasana panggung semakin kuat dengan warna khas seni pertunjukan Jawa.
Melalui Benawa Gugat, Sanggar Puspo Laras Bendosari menunjukkan bahwa kethoprak tidak harus menjadi kesenian yang hanya dikenang sebagai warisan masa lalu. Dengan kemasan milenial, cerita sejarah dapat kembali hadir di tengah masyarakat, khususnya generasi muda, dalam bentuk yang lebih menarik dan relevan.
Pementasan di Desa Wisata Kembang ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara sejarah, budaya, pariwisata, dan kreativitas generasi masa kini.
“Benawa Gugat” akhirnya bukan sekadar kisah tentang seorang putra kerajaan yang menuntut haknya. Ia adalah pengingat bahwa sejarah akan selalu memiliki cerita untuk diwariskan—dan seni menjadi salah satu cara paling indah untuk menjaganya tetap hidup.
