Sadranan Potrojayan

December 12, 2024

DAPOBUD-OPK: Adat Istiadat,

Kegiatan Sadranan dalam rangka mengirim doa bagi para leluhur di makam Potrojayan itu sudah berlangsung sejak nenek moyang. Namun mulai bulan Ruwah tahun 1444 H kegiatan Sadranan ini oleh para pemerhati kebudayaan khususnya adat dan tradisi dari dusun Potrojayan dan Macanan yang diketuai oleh Bapak Yuchat Lutfi Bakhori, S.H, bersama bapak Alexander Hendi Purwoko Yuwono, S.E., bapak Novi Andrian Hadi, S.H, bapak Mantrus selaku juru kunci, serta bapak Suryanto selaku pemimpin doa dalam setiap sadranan makam

Potrojayan, mengemas kegiatan ini menjadi kegiatan Sadranan Ageng Harjo Prawiro rejo, yang bernilai budaya dan kedepannya mendapat perhatian dari pemerintah.
Ide serta gagasan ini muncul dikarenakan dimakam ini banyak sekali para totoh dan pejabat kalurahan Madurejo, termasuk Kepala Desa Madurejo yang pertama almarhum bapak Harjo Prawiro Rejo dimakamkan di makam Potrojayan ini. Almarhum bapak Harjo Prawiro Rejo ini sebenarnya berdomisili di Macanan yang rumahnya sekaligus menjadi Kantor Desa yang pertama, setelah meleburnya 4 desa lama menjadi Desa Madurejo. Lokasi makam ini pada waktu itu termasuk mbulak Macanan oleh karena itu makam ini menjadi milik Macanan danPotrojayan. Melihat Dari sejarah, orang yang pertama kali dimakamkan di makam ini adalah mbah Potro, kemudian disusul mbah Lambangsari. Sedangkan para tokoh Kalurahan Madurejo yang dimakamkan di makam ini antara lain Kepala Desa Madurejo yang pertama almarhum bapak Harjo Prawiro Rejo, Kepala Desa Madurejo yang kedua almarhum bapak kedua H. Suhadi, Sosial pertama Madurejo almarhum bapak Harjo Pranoto, mbah Bayan almarhum bapak Pawiro Sudiro, Kepala Dukuh Potrojayan pertama sampai dengan keempat, bapak Karto Rejo (Dopo), bapak Abdul Aziz, bapak Guntur Mahendra, apak Agus Susanto, Ketua LKMD pertama Madurejo bapak Harjo Sudarmo, tokoh pendidikan pertama Madurejo bapak Widyo Susanto, bapak Sumadi, dan beberapa tokoh dari 4 desa lama antara lain carik pertama desa Rejondani mbah Harjo, carik pertama desa Bokoharjo mbah Sastro Diwiryo.
Sadranan Ageng diawali satu hari sebelum hari H, dengan pengambilan tirta kesuma dari Kantor Desa Madurejo lama di Macanan. Di teras makam Potrojayan pada malam itu diadakan puji tahlil untuk seluruh leluhur.

Disampaikan pula, bahwa terlaksananya Sadranan Ageng Harjo Prawiro Rejo ini, pembiayaannya dari serkirean oleh seluruh ahli waris yang dimakamkan di makam Ptrojayan, dari Sponsor, dari Kalurahan Madurejo 1 juta rupiah.

Pada hari H Sadranan pukul 13.00 WIB diawali dengan mengambil tirta kusuma di sumur Kantor Kalurahan Lama Macanan, selanjutnya diarak menuju makam Potrojayan dengan urut-urtan sebagai berikut : Banner, Panji-panji, Bregada Potrojoyo, Srikandi, Musik, Kendi Tirta Kusuma, Hadroh Potrojayan, Pembawa Gunungan dan Ambengan warga Macanan dan Potrojayan.

  1. Prosesi I : Perarakan Kirab menuju makam, diawali banner, panji-panji, bregada Potrojoyo, Srikandi, musik, Kendi Tirta Kusuma, rombongan Hadroh Potrojayan, pembawa gunungan dan ambengan, dan pada barisan terakhir adalah warga Macanan dan Potrojayan.
  2. Prosesi II : Perarakan sudah berjalan, dan sesampainya di depan kalurahan lama disebelah utara pasar Gendeng, dilakukan serah terima Kendi yang berisi Tirta Kusuma dari alhi waris Lurah pertama kepada ahli waris lurah kedua.
  3. Prosesi III : Sesampainya di gerbang makam bregada dan Srikandi membuat formasi pengamanan di sebelah kiri dan kanan jalan, selanjutnya Kendi diserahkan kepada juru kunci makam bapak Mantrus didampingi tokoh budaya kalurahan Madurejo bapak H. Maryadi, Ketua Desa Budaya Madurejo Bapak Alexander, dan kepala Dukuh Potrojayan.
  4. Prosesi IV : Setelah semuanya sampai di teras makam, Kendi Tirto Kusuma, Gunungan dan Ambengan didoakan bersama-samaoleh seluruh hadirin. Selanjutnya Kendi Tirta Kusuma diserahakan kepada ahli waris para tokoh yang dimakamkan, untuk disiramkan di batu nisan sebagai simbul dan sarana mendoakan agar menjadi penyejuk hati bagi yang mendoakan maupun yang didoakan, demikian juga bunga setaman yang sudah disiapkan, juga mendampingi prosesi penyiraman Tirta Kusuma.
  5. Prosesi V : Setelah selesai prosesi siraman Tirta Kusuma, di teras makam dilakukan kembul bujana bersama diawali dengan mbruncah gunungan dan ambengan diiringi berkumandangnya hadroh dari bapak dan ibu kampung Potrojayan.

SADRANAN 2024

Prosesinya sama dengan sadranan tahun 2023, nanum ada perubahan pada pengambilan air Tirta Kusuma. Kalau tahun 2024 ini pengambilan air tirta kusuma diambil 7 mata air sumur, yang berasal 3 dari kampung Macanan dan 4 dari kampung Potrojayan. Perbedaan selanjutnya juga pada prosesi awal, kalau di tahun 2024 ini prosesi awal ada dua tempat, yang urut-urutan barisan tetap sama namun rombongan barisan dari kampung Macanan diawali dari depan kantor kalurahan Macanan yang dikawal dengan bregodo Sardula, sedangkan rombongan barisan dari warga kampung Potrojayan dikawal oleh bregodo Potrojoyo dimulai dari rumah mantan dukuh Potrojayan alm. Bapak Agus Susanto.
Kedua barisan mulai start bersama-sama, dan barisan bertemu tepat di perempatan pasar Gendeng, dan disinilah dilakukan prosesi disatukannya air tirta kusuma dalam satu Kendi Tirta Kusuma. Untuk selanjutnya perjalanan barisan dilanjutkan menuju makam Potrojayan, dan prosesi selanjutnya sama dengan prosesi tahun 2023
Hanya yang menjadi lebih istimewa pada tahun 2024 ini, kegiatan Sadranan Ageng Potrojayan berubah nama menjadi Sadranan Ageng Matengga Jaya sesuai kesepakatan para tokoh yang ada, yang selanjutnya diajukan proses untuk mendapatkan Nomor Induk Kebudayaan dari Kundha Kabudayan Sleman. Pada kegiatan Sadranan Potrojayan ini warga yang hadir kurang lebih 400 orang. Juga secara istimewa hadir bupati sleman yang diwakili oleh Wakil Bupati, Kundha Kabudayan Sleman, dinas Pariwisata Sleman, mantan Sekda Sleman, Muspika Kapanewon Prambanan, Lurah Madurejo beserta pamong, Pengurus Desa Budaya Madurejo, seluruh kepala Dukuh se-Kaurahan Madurejo, warga Macanan dan Potrojayan, serta waga sekitar yang ingin menyaksikannya.

Ditengah-tengah kegitan ini berlangsung, diserahkan pula Nomor Induk Kebudayaan Matengga Jaya oleh Kunda Kabudayan Sleman yang diterima dukuh Potrojayan.
Terlaksananya sadranan tahun 2024 ini panitia membuat serkileran kepada ahli waris, para pengusaha yang berdomisili di kampung Potrojayan dan kampung Macanan, donatur dari bapak Hardo Kiswaya (mantan Sekda Sleman) pemerintah kaurahan Madurejo, dan pemerhati yang peduli terhadap kebudayaan.