Boyong Projo adalah salah satu upacara adat yang menceriterakan kembali sejarah perpindahan kantor Kalurahan Madurejo dari Kalurahan Lama yang terdiri dari empat kalurahan lama, yaitu Kalurahan Totogan, Kalurahan Kebondalem, Kalurahan Demangan, dan Kalurahan Rejodani menjadi Kalurahan Madurejo ke Kampung Macanan, dimana rumah almarhum bapak Harjo Prawiro Rejo yang juga menjabat sebagai Lurah pertama menempati rumah pribadi sebagai kantor Kalurahan Madurejo.
Kegiatan Adat Boyong Projo yang dilaksanakan 2 tahun sekali, mulai dilaksanakan sejak tahun 2019, dilanjutkan tahun 2020, 2022, dan rencananya akan dilaksanakan juga pada tahun 2024 ini.
Saat pertama kali digelar Adat Boyong Projo yang sudah disiapkan oleh Paraga Utama, dengan kirab dari Dusun Macanan sebagai pusat pemerintahan pertama kali kalurahan Madurejo dilanjutkan menuju arah kearah jalan Prambanan-Piyungan, dilanjutkan ke padukuhan Serut dengan prosesi mengarak, Banner, panji-panji, kereta yang ditumpangi oleh Lurah, dilanjutkan kereta yang ditumpangi oleh mantan Lurah, disusul para Pamong Kalurahan beserta lembaga-lembaganya secara kirab masal menggunakan pakaian adat keprajuritan Mataram. Barisan kirab dikawal oleh bregodo di Kalurahan Madurejo Yaitu Bregada Potrojoyo dan Srikandi Madurejo.
Namun pada perkembangan selanjutnya, dengan pertimbangan dari berbagai pihak, pelaksanaan Boyong Projo pada tahun 2022 yang dilaksanakan Sabtu dan Minggu tanggal 17 daan 18 Desember diikuti oleh lebih dari 1.500 orang dari warga kalurahan Madurejo mengambil rute berbeda, termasuk Kendi Pratala dalam Boyong Projo ini sudah disiapkan di Kantor Desa Lama sebelah utara pasar Gendeng.
Start tetap sama dari pusat pemerintahan desa Madurejo di dusun Macanan, dekat lapangan Krido Bantolo Madurejo, kearah barat menuju ke jalan Prambanan-Piyungan, namun sesampainya di perempatan dusun Macanan belok kearah utara menuju ke Padukuhan Candisingo, sesampainya di padukuhan Candisingo, belok kearah barat menuju ke jalan raya Prambanan-Piyungan, terus ke selatan, sesampainya di kantor Desa lama yang terletak di sebelah utara pasar Gendeng. Disinilah dilakukan prosesi penyerahan Kendi Pratala yang berisikan air yang diambil dari 4 sumber mata air dari 4 kalurahan lama, dari pejabat mantan kepala desa kepada pejabat Lurah, sebagai simbul estafet kepemimpinan kalurahan.
Setelah selesai acara prosesi, dilanjutkan perarakan menuju Kantor Kalurahan Madurejo. Sedangkan Mantan Kepada Desa ikut bergabung dalam barisan dibelakang kereta yang dinaiki pejabat Lurah sersama ibu Ketua PKK. Urut-urutan barisan adalah sebagai berikut, pembawa banner gelaran adat, kemudian diikuti pembawa panji-panji, disusul dengan kereta kuda Lurah Madurejo bersama ibu, kerata kuda mantan lurah bersama ibu, dilanjutkan 4 ekor kuda yang dinaiki oleh 4 pejabat pamong kalurahan Madurejo sebagai pelambang Kalurahan Madurejo terdiri dari 4 kalurahan lama, dilanjutkan barisan Bregodo Potrojoyo, penabuh musik bregodo, disusul oleh bregodo Srikandi, diikuti para pamong kalurahan Madurejo dan kepala dusun, dilanjutkan 4 gunungan yang dibawa dan diikuti oleh warga masing-masing yang berasal dari kalurahan lama, kemudian barisan paling belakang adalah barisan Jip Wisata yang dalam hal ini merupakan keterlibatan langsung bagian dari warga yang terkoneksi dengan tempat-tempat wisata di Kapanewon Prambanan.
Sesampainya di pintu gerbang Kalurahan Madurejo, barisan Bregodo dan Srikandi membentuk benteng barisan di sebelah kiri dan kanan, mengamankan jalan disamping kiri dan kanan jalan kearah Pendopo Ayudya Tulada Kalurahan Madurejo. Kereta yang ditumpangi lurah bersama ibu berhenti tepat di pintu gerbang kalurahan Madurejo. Disinilah prosesi wijikan pejabat Lurah yang dilakukan oleh ibu Lurah dengan air Kendi Pratala sebagai pelambang agar sukertaning suku lurah dalam memimpim kalurahan Madurejo dapat dibersihakan, sehingga didalam memipin Kalurahan Madurejo dengan hati yang bersih, jujur, bertanggung jawab, serta diberikan kesehatan lahir dan batin. Setelah selesai prosesi tersebut, dilanjutkan dengan prosesi kirab sumewo menuju palenggaran di Pendapa Ayodya Tulada, diawali dengan 4 penari beksan sebagai cucuk lampah, mengandung makna agar Lurah dalam perjalanan memimpim kalurahan, diberikan jalan yang luas, dibersihkan dari aral dan rintangan, serta diberikan sekehatan serta kemudahan.
Setelah Lurah beserta bu sudah sampai didampar pilenggahan dilanjutkan para pembawa Kendi Pratolo, Bendera Merah Putih, Pataka Kalurahan Madurejo, serta bendera masing-masing lembaga yang ada dikalurahan Madurejo.
Semuanya peserta kirab dan para undangan sudah menempatkan diri masing-masing, selanjutnya Lurah Kalurahan Madurejo menyampaikan sambutan yang isinya tentang penyampaian kembali perjalanan berdirinya kalurahan Madurejo dari awal hingga sampa saat ini.
Demikian juga di tahun 2024, Boyong Projo yang sudah menjadi agenda tetap, dan akan dilaksanakan sekitar bulan Desember 2024 yang rencananya pada saat yang sama juga akan dilaksanakan juga “Grebeg Madurejo” seperti kegiatan dua tahun yang lalu.
Untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini Pemerintah Kalurahan Madurejo sudah memasukkannya dalam program RPJM maupun dalam RAB Kalurahan, dibantu oleh swadaya dari masyarakat serta pihat yang terkait yang peduli dengan kegiatan dimaksud.
Untuk rencana pelaksanaan Boyong Projo di tahun 2024 ini pemerintah Kalurahan Madurejo akan mengusulkan dengan dukungan Danais.
