
Sanggar Seni Sekar Djagad atau biasa disebut sebagai Padepokan Sekar Djagad merupakan salah satu pusat atau tempat yang mewadahi para seniman untuk mengekspresikan dirinya melalui seni. Tidak hanya terbatas pada seni tari saja, namun juga mulai melebarkan sayapnya pada seni peran atau teater. Sanggar seni Sekar Djagad terletak di Dk. Mutihan, Kel. Madurejo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak seperti sanggar seni kebanyakan yang melabeli dirinya terfokus pada tari-tarian modern atau tradisional saja, karya-karya yang dihasilkan oleh Sanggar Seni Sekar Djagad terinspirasi sekaligus diambil dari tradisi, budaya, dan nilai yang berkembang di lingkungan sekitar, khususnya pada wilayah Prambanan.
Sejarah
Sanggar Seni Sekar Djagad merupakan sanggar seni tertua di Yogyakarta serta berkembang dan masih aktif hingga saat ini. Penamaan sanggar tersebut bukan tanpa alasan. Sanggar Seni Sekar Djagad, “sekar” merupakan kepanjangan dari seni karawitan, yang berarti seni karawitan yang diwariskan dari orang tua pendiri sanggar seni ini. Seni karawitan merupakan bagian dari kesenian, untuk menlengkapi keindahan yang ada. Sedangkan “djagad” (dituliskan dengan ejaan lama) memiliki arti dunia, dengan harapan agar sanggar tersebut mampu memasyarakatkan dan menyebarkan seni.
Sanggar Seni Sekar Djagad didirikan pada 1993 oleh Hajar Wisnu Satoto (alumnus Seni Tari ISI Yogyakarta), meneruskan sekaligus membuat beberapa perubahan dari sanggar yang telah dibangun oleh ayahnya, Gunawan Satoto. Saat masih dikelola oleh Gunawan Sutopo sanggar tersebut bernama Sanggar Seni Topo Budoyo. Kemudian setelah wafat, pengelolaan sanggar tersebut diserahkan kepada anaknya, Pak Totok (sapaan akrab Hajar Wisnu Sutopo). Salah satu yang “mendukung” pendirian sanggar ini ialah tugas akhir (ujian praktik) pendiri sewaktu SMA, yang memainkan lakon The Legend of Roro Jonggrang, sekaligus merupakan karya masterpiece-nya, sudah tampil di 5 kabupaten di Yogyakarta pada tahun 1993. Kemudian pada 2006, ketika terjadi gempa yang melanda Yogyakarta, sanggar seni ini juga aktif mengadakan kegiatan refleksi dan penggalangan dana, hingga tahun berikutnya. Sanggar Seni Sekar Djagad pertama kali mendapat nomor induk kebudayaan (NIK) dari Dinas Kebudayaan Kab. Sleman pada 2014. Kemudian dibentuklah struktur kepengurusan formal untuk mengelola sanggar tersebut dengan Bapak Totok selaku Ketua serta Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc. selaku penasihat.
Sanggar Seni Sekar Djagad didirikan sebagai wadah untuk menyalurkan minat dan perhatian masyarakat dalam seni, merangkul masyarakat, serta membuat berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni, seperti mengadakan berbagai pementasan baik secara mandiri (hiburan, penggalangan dana, maupun komersil) maupun bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan, Balai Pelestarian Cagar Budaya, dan Taman Wisata Candi (TWC). Pendirian Sanggar Seni Sekar Djagad juga bertujuan untuk melestarikan budaya yang ada di sekitar, menyampaikan dan mengkomunikasikan makna dan pesan yang ada di dalamnya kepada masyarakat. Sanggar Seni sekar Djagad yang awalnya berfokus pada seni tari saja, kemudian melebarkan sayapnya, mulai mendalami dan mementaskan seni peran (menampilkan sejenis ketoprak, membuat film tari) dengan berfokus pada seni di Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta.
Karya-karyanya terinspirasi dari tradisi (seni tradisi) yang berkembang di sekitar, khususnya lingkungan Prambanan. Cerita dan lakon yang dimainkan pada awalnya hanya mengenai cerita-cerita legenda, khususnya Ramayana. Kemudian berkembang kepada budaya lain yang ada di Prambanan, berkaitan dengan situs budayanya, mengusahakan agar dapat menyentuh berbagai aspek yang ada; cerita dalam relief, aspek sejarah, dan aspek legendanya. Seperti pada Candi Prambanan, tidak hanya mengenai Ramayana, sanggar seni ini juga membawakan Legenda Roro Jonggrang serta cerita sejarah pada masa Wangsa Sanjaya. Beberapa kegiatannya saat ini ialah mengadakan pementasan di candi selama 7 hari 7 malam yang dilaksanakan di Candi Prambanan, serta pementasan Putri Hariti di Candi Banyunibo.
Sanggar Seni Sekar Djagad mencoba untuk menampilkan “seni” yang berbeda dari lainnya, membuat berbagai pembaharuan, terus berkembang, tidak berhenti pada menampilkan yang itu-itu saja, pun turut mengupayakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang ada dalam budaya yang dilakonkan. Karya-karyanya justru tidak mengenai seni tari tradisional, namun tidak terlepas dari kisah-kisah Mataram Kuno dan Hindu. Sebab sanggar tersebut juga terletak jauh dari pusat kerajaan, berada di perbatasan (menyesuaikan dengan yang ada di sekitar).
Kini Sanggar Seni Sekar Djagad berpedoman pada profesionalitas (pada awalnya juga terkait dengan edukasi, mengajarkan seni tari kepada anak-anak kecil), sehingga partisipannya ialah orang-orang yang sudah berkecimpung dalam seni. Sedangkan untuk sanggar seni edukasi ialah pada Yayasan Sekar Puri Ayodya. Anggota-anggota sanggar tidak terikat dengan satu sanggar saja, seniman memiliki jam kerja yang tinggi serta dapat bergabung dengan sanggar lain, saling mendukung dan membantu dalam memasyarakatkan kebudayaan. Kegiatan yang ada di sanggar bersifat fleksibel, tidak ada jam yang tetap, menyesuaikan pada karya yang sedang dikerjakan, baik tarian, teater, maupun festival-festival sendratari.
Salah satu kendala dalam menjalankan sanggar ini ialah susahnya untuk mencari generasi selanjutnya. Seperti yang diketahui, bahwasanya saat ini minat generasi muda terhadap kebudayaan dan kesenian semakin menurun, cenderung menyukai hal-hal dari luar yang dianggap lebih bagus dan modern. Hal ini sekaligus menjadi tantangan dan tugas bagi sanggar seni tersebut untuk semakin menggencarkan pendekatan kepada generasi muda, mengenalkan kebudayaannya sendiri.
Properti yang digunakan dalam pementasan disesuaikan dengan zaman dan lakon yang dimainkan, seperti pada pembuatan film tari kisah pecahnya Pandawa dan Kurawa (Sengkuni) serta lahirnya Gathotkaca dengan durasi kira-kira 1 jam (film pendek). Hingga kini, Sanggar Seni Sekar Djagad telah memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan yang ada di Yogyakarta hingga Prancis, Eropa Timur, China, serta Thailand.
