Wiwit Ageng Mutihan

December 12, 2024

DAPOBUD-OPK: Adat Istiadat,

 Padukuhan Mutihan tepatnya di Kalurahan Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga terdapat sebuah acara yang dilaksanakan oleh warga setempat, yaitu “Wiwit” yang diadakan di Padukuhan Mutihan. Upacara ini pada jaman dahulu dilakukan di semua lapisan masyarakat di Kalurahan Madurejo. Namun pada saat ini sudah sangat jarang warga melakukan acara ini. Oleh warga padukuhan Mutihan acara wiwit masih dilakukan secara rutin setiap tahunnya.

Acara Wiwit ini adalah sebuah tradisi sebagai tanda syukur atas hasil panen padi yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa melalui alam yang melimpah. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang ingin menyaksikan langsung kearifan lokal masyarakat Yogyakarta.

Pada tahun 2022 pemerintah dalam hal ini Kundo Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta mendukung kegiatan ini dengan menggunakan Dana keistimewaan. Turut diundang dan hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari Kundo Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta, Muspika kapanewon Prambanan, Pemerintah Kalurahan Madurejo, para dukuh se Kalurahan Madurejo, ratusan warga masyarakat Mutihan maupun warga diluar Mutihan yang ingin menyaksikan acara wiwit yang sudah yang sudah langka dilakukan masyarakat. Dengan adanya dukungan dana keistimewaan, pelaksanaan acara Wiwit dapat berlangsung lebih meriah dan terorganisir dengan baik.

Pada pelaksanaan Wiwit Ageng, Panitia sudah menyiapkan ubo rampe untuk perlengkapan pelaksanaan antara lain : gunungan dari buah dan sayuran, ambengan, sekul wiwit, 17 ingkung yang mengandung makna mohon petunjuk, pertolongan dan pelaksanaan agar berjalan dengan lancar, tukon pasar, pisang raja, kemenyan sebagai sarana doa yang bermakna bahwa aromanya menghilangkan kotoran serta membersihkan aroma yang tidak sedap disekitar padukuhan Mutihan, sedangkan asapnya membubung tinggi bermakna agar segala doa-doanya sampai kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, daun kluwih mengandung makna bahwa hasil bumi yang diterima akan selalu lebih dari cukup guna memenuhi kebutuhan, daun dhadhap serep sebagai simbul agar keluarga petani yang ada di padukuhan selalu diberikan kedamaian dan ketenteraman, daun turi bermakna rezeki para petani akan terus berbuah dan berlimpah, abon-abon yang terdiri dari tembakau glindhing, daun suruh, apu, gambir, uang wajib (kancing donga) bermakna sebagai persembahan kepada Dewi Sri (kemakmuran), Kendi yang berisi air dari 7 sumber mata air, bermakna agar para petani mempunyai pemikiran yang jernih dan hati yang bersih, Ani-ani sebagai alat memetik padi dan sebagai perwujudan Dewi Sri. Padi yang akan dipetik menggunakan Ani-ani ini sebanyak 27 tangkai padi, mengandung makna agar doa serta harapan dari seluruh petani sampai pada tujuan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selanjutnya ke 27 tangkai padi tadi daunnya diikal/dikelabang, sedangkan padinya dimaknai sebagai badan Dewi Sri, dikembeni dengan daun pisang raja. Tukon Pasar yang isinya ada 3 buah pisang, 3 buah salak, 3 buah jambu biji, 3 buah mentimun, yang nantinya akan ditaburkan ke sawah sebagai sesaji kepada penunggu sawah. Nasi liwet dan kerak, sambel gepeng gereh pethek, telur ayam, kuluban.

Jalannya prosesi Wiwit Ageng

Barisan pertama banner, 20 penari Dewi Sri, bregodo tani, bregodo gunungan, umbul-umbul, gunungan dari hasil bumi, ancak yang berisi 3 ambengan (terdiri dari sego wajar, sego gurih, 17 ingkung, buah-buahan, diikuti mbak kaum, barisan pembawa sego wiwit, pembawa buah-buahan, pembawa abon-abon ditambah ani-ani dan dupo, disusul barisan goprak (sebuah alat yang terbuat dari satu setengan ruas bambu, dibelah sebagai penghalau burung), diikuti barisan memedi manuk, dan barisan yang terakhir adalah barisan warga tani.
Perarakan dimulai dari sudut sebelah timur dusun Mutihan, menuju ke tempat prosesi Wiwit Ageng di sebelah utara dusun Mutihan. Disepanjang perjalanan menuju lokasi Wiwit Ageng, barisan di condro oleh pambioworo.

Sesampainya di lokasi Wiwit Ageng, uborampe yang dibawa oleh seluruh barisan, diletakkan di tempat yang sudah disiapkan di depan para tamu undangan yang sudah hadir antara lain Wakil Bupati Sleman, Kundho Kabudayan Sleman, Dinas Pertanian Sleman, Muspika Kapanewon Prambanan, UPT Pertanian Pambanan, Pemerintah Kalurahan Madurejo beserta seluruh pamongnya, Pengurus Desa Budaya Kalurahan Madurejo, para Dukuh se-Kalurahan Madurejo, para ketua Kelompok Tani se-Kalurahan Madurejo, warga dari Mutihan maupun dari luar Mutihan yang ingin menyaksikannya.

Pelaksanaan Prosesi Wiwit Ageng

Diawali kata pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan sambutan dari Ketua Panitia Wiwit Ageng, sambutan Lurah Madurejo, sambutan Wakil Bupati Sleman. Dilanjutkan prosesi selanjutnya, diawali dari mbah kaum Bedjo didampingi oleh Kelompok Tani Mulya, Bupati Sleman, Kundo Kabudayan Sleman, Panewu Kapanewon Prambanan, UPT Pertaman Prambanan, Lurah Madurejo, menuju lokasi tempat memetik 27 tangkai padi yang sudah disiapkan. Diawali dengan doa oleh mbah kaum Bedjo, dilanjutkan memetik padi 1 tangkai, disusul oleh para undangan yang mendapinginya sampai genap 27 tangkai. Setelah pemetikan selesai, oleh mbah kaum Bedjo dijadikan satu, dan dibentuklah perwujudan Dawi Sri, setelah selesai kemudian diserahkan kepada Lurah Madurejo, kemudian diserahkan kembali kepada mbah Karso, iu petani yang tertua didusun Mutihan tersebut untuk disimpan di pedaringan/lumbung padinya.

Acara berikutnya, ngrayah gunungan oleh warga yang hadir, dinajutkan kembul boga bujana andrawina, sambil menyaksikan beksan Dewi Sri. Acara Wiwit Ageng ditutup dengan doa.