Dari botol bekas tumbuh harapan, dari kerja bersama tumbuh masa depan — Ibu-Ibu Dukuh Candisingo dan KKN 289 UNS menanam sayuran, menanam kebaikan
SLEMAN – Kelompok KKN 289 Universitas Sebelas Maret (UNS) telah melaksanakan kegiatan Penanaman Sayuran Hidroponik Menggunakan Botol Bekas pada Minggu (10/8/2025) sebagai salah satu program kerja KKN. Di tengah isu keterbatasan lahan dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat, inovasi bercocok tanam hidroponik menjadi solusi yang praktis dan ramah lingkungan.
Melihat peluang tersebut, mahasiswa KKN UNS dari berbagai fakultas mengadakan program pelatihan penanaman sayuran hidroponik menggunakan botol bekas bersama ibu-ibu di Padukuhan Candisingo. Program ini tidak hanya bertujuan menghasilkan pangan sehat, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan limbah plastik dan menjaga lingkungan.
Padukuhan Candisingo memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian skala rumah tangga. Namun, sebagian besar lahannya digunakan untuk pemukiman, sehingga menanam sayuran secara konvensional menjadi tantangan. Selain itu, limbah plastik rumah tangga—terutama botol minuman—sering terbuang begitu saja. Melalui program ini, mahasiswa KKN UNS memperkenalkan metode hidroponik yang hemat lahan, hemat air, dan memanfaatkan barang bekas, sekaligus mengajak warga berpartisipasi aktif menjaga kelestarian lingkungan.
Salah satu pendekatan yang semakin diminati adalah penanaman sayuran dengan metode hidroponik, yang melibatkan praktik langsung, kolaborasi, serta integrasi seni tanpa memerlukan tanah. Metode ini sangat relevan mengingat meningkatnya limbah plastik dan kebutuhan pangan sehat yang mendesak, sehingga membutuhkan solusi kreatif dan berkelanjutan seperti botol plastik, kaleng, atau pipa PVC yang tidak lagi digunakan. Selain mengurangi limbah, metode ini mampu menciptakan sumber pangan sehat dan mandiri.
Metode ini juga sesuai dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
Tujuan ke-2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) – meningkatkan ketersediaan pangan sehat, bahkan di area perkotaan yang minim lahan, serta membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi dengan menanam sendiri.
Tujuan ke-3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) – menghasilkan sayuran segar dan bebas pestisida yang lebih sehat untuk dikonsumsi.
Tujuan ke-6: Clean Water and Sanitation (Air Bersih dan Sanitasi Layak) – sistem hidroponik menggunakan air hingga 90% lebih hemat dibanding pertanian konvensional.
Tujuan ke-12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) – penggunaan botol plastik bekas membantu mengurangi limbah dan mendorong daur ulang.
Tujuan ke-13: Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim) – mengurangi polusi plastik dan emisi karbon karena pangan diproduksi secara lokal.
Pelatihan penanaman sayuran hidroponik di Padukuhan Candisingo tidak hanya memberikan praktik langsung bersama ibu-ibu, tetapi juga dilengkapi pembagian poster panduan agar mereka dapat melaksanakan dan mengembangkan metode ini secara mandiri di rumah.
Kegiatan penanaman sayuran hidroponik menggunakan botol bekas oleh mahasiswa KKN UNS bersama ibu-ibu Padukuhan Candisingo menjadi bukti nyata bahwa inovasi sederhana dapat membawa manfaat besar. Selain menghasilkan pangan sehat, kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola limbah, menjaga lingkungan, dan membangun ketahanan pangan keluarga.

Diharapkan, keterampilan yang diperoleh dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya berkelanjutan bagi seluruh warga padukuhan.
